Rabu, 05 September 2012

Manfaat Emas


Emas sebagai alat tukar
Jika kita berbicara mengenai emas, maka yang terbayang adalah benda kuning yang bersinar, bahan baku utama perhiasan wanita. Padahal emas, tidak seperti logam lainnya, mempunyai sejarah dan tempat khusus dalam peradaban manusia. Selama berabad-abad emas dianggap sebagai logam paling berharga berdampingan dengan perak. Banyak kebudayaan menyatakan emas sebagai simbol kerajaan dan kebangsawanan. Secara instingtif manusia telah menyadari tingginya nilai emas bahkan sebelum emas mengambil peran sebagai alat tukar. Warnanya yang terang,  tingkat kelangkaan yang tinggi namun mudah ditempa, telah menjadikan emas bahan baku favorit pengrajin perhiasan kerajaan. Penemuan koin emas pada situs penggalian Kuil Artemis di Epheseus menandakan bahwa pada awalnya emas dipergunakan sebagai simbol ritual dan status kerajaan. Koin emas ini tidak mempunyai tulisan atau "legenda" sehingga para ahli menduga koin-koin ini dicetak sebagai lambang kerajaan atau simbol pembesar negeri ketimbang sebagai alat pertukaran. Ada banyak teori seputar bangsa yang pertama mencetak koin emas. Tetapi terobosan terpenting dilakukan oleh bangsa Lydia. Bangsa Lydia mencetak koin-koin emas dengan standarisasi kadar emas yakni campuran 63% emas dan 27% perak, yang kemudian dikenal sebagai electrum. Standar kadar emas inilah yang memastikan koin emas bangsa Lydia diterima secara luas dan memicu digunakannya emas sebagai alat tukar. Sistem standarisasi kadar emas kemudian diikuti oleh banyak bangsa. Dibawah pengawasan pemerintah, organisasi-organisasi individu mulai mencetak koin emas dengan kadar yang telah ditetapkan oleh penguasa setempat. Bangsa-bangsa seperti Yunani mulai mencetak koin emas dan menggunakannya sebagai alat tukar dalam perdagangan dengan bangsa lain. Diikuti oleh bangsa Roma yang mencetak koin emas dengan berat 7 gram yang dikenal dengan nama aureus. Satu aureus sama dengan 25 dInar - koin perak - dan kemudian melahirkan sistem kurs. Bangsa Persia adalah bangsa pertama yang mencetak dirham dan dinar. Satu dirham mempunyai berat satu mithqal (4.25gr). Sistem inilah yang kemudian diadopsi oleh bangsa-bangsa Timur Tengah seperti Arab Saudi, Afrika Utara dan Persia. Standarisasi kadar emas dinar (4.25gr - 22karat) dimulai pada pemerintahan Khalifa Abdul bin Malik, dari dinasti Umayyad. Hingga hari ini, standar kadar emas dirham tidak berubah dan sudah dibakukan oleh WITO (World Islamic Trade Organization). Berbeda dengan berbagai jenis koin emas lainnya, saat ini dinar dan dirham masih digunakan secara luas oleh negara-negara Timur Tengah (seperti negara Arab Saudi) dan sebagian negara Afrika Utara. Tetapi baru pada tahun 1284 saat negara Venesia mencetak ducat (koin emas pertama Venesia) sistem emas sebagai alat tukar di adopsi oleh negara-negara Eropa lainnya. Lahirlah sistem mata uang berbasiskan koin emas. Masing-masing dengan standar kadar emas yang berbeda. Contohnya kerajaan Inggris memperkenalkan mata uang guinea. Melalui penggunaan koin emas inilah, bangsa Eropa pada abad pertengahan menikmati kemajuan perdagangan. Kesulitan menentukan nilai satu komoditas seperti pada saat sistem perdagangan barter hilang dengan sendirinya. Para pedagang mulai berdagang hingga negeri jauh seperti Cina melalui sistem koin emas sebagai alat pembayaran. Pada tahun 1750-1870 telah terjadi kelangkaan perak dibanyak negara Eropa. Ini disebabkan karena perang dan perdagangan dengan bangsa Cina. Bangsa Eropa lebih banyak membeli komoditas dari bangsa Cina namun tidak sebaliknya. Selain itu bangsa Eropa terlibat perang satu sama lain yang banyak menghabiskan cadangan emas dan perak guna membiayai angkatan bersenjata. Pada masa inilah koin-koin yang dicetak baik emas maupun perak semakin kecil dengan berat yang semakin ringan. Sebagai contoh, pada awal kemunculannya, 1 guinea mempunyai standar berat 8.4 gr - 8.5g tetapi pada tahun 1680 diturunkan menjadi 8.3gr - 8.4gr. Walaupun demikian nilai emasnya terus menerus naik, dari 22 shilling per 1 guinea hingga mencapai angka tertinggi yakni 30 shilling per 1 guinea. Kondisi kelangkaan perak yang kemudian disusul dengan kelangkaan emas inilah yang kemudian mendorong bangsa Eropa mengadopsi sistem uang kertas Amerika yang dulu dikenal dengan nama Demand Note. Setelah perang dunia I semakin banyak negara-negara mengadopsi sistem uang kertas dan logam, yang menandai berakhirnya koin emas sebagai alat pertukaran resmi. Saat ini hanya sedikit negara saja yang masih bertahan menggunakan mata uang emas.

Emas dalam Perhiasan dan Industri
Selama berabad-abad banyak kebudayaan di seluruh dunia mengakui dua hal tentang emas, daya tarik dan nilainya yang tinggi. Dari peradaban Mesir hingga bangsa Aztec, dari peradaban Mesopotamia hingga kerajaan-kerajaan di Arab dan Asia semua setuju dengan kekuatan dan pesona emas. Para pengrajin telah lama mengetahui bahwa emas adalah logam yang mudah ditempa namun mampu mempertahankan bentuknya dalam waktu yang sangat lama. Emas juga merupakan satu-satunya logam yang tidak akan beroksidasi dalam suhu ruangan, menjadikannya logam yang tidak akan pernah berkarat. Tidak seperti berhentinya penggunaan emas
sebagai alat tukar resmi, tidak ada logam lain yang mampu menggantikan posisi emas sebagai bahan baku perhiasaan. Hingga saat ini perhiasaan yang terbuat dari emas masih dianggap terbaik dan mampu menunjukkan status sosial penggunanya. Ada ratusan tradisi yang melibatkan emas, tetap dipertahankan hingga saat ini. Sebagai contoh tradisi memberikan cincin kawin yang terbuat dari emas setidaknya telah berlangsung selama 900 tahun. Proses pengolahan emas dari manual telah digantikan kecanggihan teknologi mesin. Bentuk perhiasan yang sederhana telah digantikan rancangan rumit desainer, tetapi bahan bakunya tetap sama yakni emas. Emas juga dikenal akan sifat elastisitasnya yang luar biasa. Tidak ada logam lain yang mampu menandingi daya daktilitas emas. Satu butir emas berukuran 5mm mampu di tempa menjadi lembaran tipis emas berukuran 0.5m persegi atau ditarik hingga membentuk kawat emas sepanjang 50cm. Kedua sifat inilah yang menjadikan emas banyak digunakan sebagai ornamen istana dan tempat tinggal bangsawan. Dijaman modern, emas telah menemukan peranan baru dalam berbagai bidang industri dan kedokteran. Emas banyak digunakan sebagai pelapis barang-barang industri karena sifatnya sebagai konduktor dan permukaannya mampu merefleksikan sinar infra merah. Mulai dari industri telekomunikasi sampai program luar angkasa menemukan manfaat dari emas sebagai satusatunya logam yang tidak dapat berkarat. Belum lagi dalam bidang kedokteran. Melalui serangkaian penelitian, para ahli telah membuktikan bahwa emas mampu melawan sifat korosif dari bakteri, menjadikannya ideal sebagai bahan dasar implan telinga. Emas juga mulai digunakan pada sejumlah pengobatan experemental melawan kanker prostat.

Emas Sebagai Sarana Investasi
Berinvestasi dalam bentuk emas telah dilakukan orang selama berabad-abad. Para raja dan bangsawan pada mulanya menyimpan emas sebagai simbol kekuasaan. Tetapi kebanyakan dari mereka hanya menggunakan emas untuk keperluan upacara dan bahan baku perhiasan. Kemudian mereka menyadari bahwa emas bersama perak adalah dua jenis komoditi yang akan diterima secara luas oleh berbagai bangsa. Gandum atau jagung belum tentu dapat membeli kuda dan perlengkapan perang. Tetapi emas selalu dapat ditukarkan dengan komoditas lain. Dimulailah pengiriman tentara ke negeri-negeri jauh dengan harapan akan menemukan sumber emas baru. Emas yang didapat kemudian dipergunakan untuk membiayai angkatan perang dan memperluas wilayah Perlahan namun pasti semakin banyak orang memperoleh akses kepemilikan emas. Melalui perdagangan misalnya. Pada saat emas dinyatakan sebagai alat pembayaran yang sah, secara otomatis setiap barang yang diperjualbelikan melibatkan koin emas. Sebagian orang tidak serta merta membelanjakan koin emas mereka untuk komoditas lainnya. Mereka mencukupi kebutuhan mereka melalui pertanian dan peternakan swadaya, serta menyimpan koin-koin emas. Praktek seperti ini lazim dilakukan oleh pedagang-pedagang asal Venisia. Bertahun-tahun kemudian saat emas tidak lagi digunakan sebagai alat tukar resmi, keluarga-keluarga ini melebur koin emas dan merubahnya menjadi emas batangan, mendapati bahwa nilai emas sudah naik jauh melampaui nilai yang tertera pada keping koin emas. Dari merekalah lahir istilah "emas keluarga tua". Inilah yang kelak melandasi pemikiran bahwa emas juga bisa menjadi sarana investasi yang tidak berbeda dengan lahan dan properti, bahkan lebih baik. Keluarga-keluarga tua ini menyadari melalui pengalaman, nilai emas tidak pernah turun. Alasan mengapa harga emas tidak pernah turun akan dijelaskan secara terperinci pada bab-bab selanjutnya. Ada sejumlah keyakinan bahwa resesi ekonomi yang baru-baru saja menghantam Amerika, tidak mempengaruhi kondisi keuangan keluarga-keluarga ini. Mengapa? Karena mereka menyimpan sebagian besar kekayaan mereka dalam bentuk emas, sarana yang kian hari terbukti sebagai bentuk investasi terbaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar